MAHAL

Kata mahal dalam Bahasa Indonesia memiliki makna dan arti yang sama dalam Bahasa Tagalog. Mahal artinya tinggi harganya (seperti yang dituliskan dalam Kamus besar Bahasa Indonesia). Kata ini menggambarkan kehidupan saya saat ini. Mahal! . Bahkan udara yang saya hirup saat inipun terasa sekali mahalnya. Saya mengatakan hal ini karena memang demikian kenyataannya. Hidup ini mahal!.

Ketika masuk ke negara orang, sebagai warga negara asing, kita harus membayar tiket untuk tinggal. Itulah yang disebut sebagai visa. Ada berbagai jenis visa tapi yang paling terkenal mungkin hanya tiga ini, visa pelajar, visa tourist dan visa untuk bekerja. Visa ini juga memiliki batas waktu seperti halnya tiket untuk nonton di bioskop. Tidak ada yang namanya gratis dan semuanya punya jangka waktu tertentu. Pembayaran untuk mendapatkan visa ini benar-benar alamak luar biasa. Kadang saya harus mengelus-ngelus dompet saya terlebih dahulu supaya rela untuk mengeluarkan peso-peso yang sangat berharga milik saya.

Tapi, tinggal di negeri sendiri juga tidak gratis. Kita punya pajak yang harus di bayarkan. Bahkan wajib. Jadi memang, tidak ada yang namanya tinggal di negeri sendiri itu gratis. Udara dan air yang katanya sumber daya bebas pakai, seperti omongan omong kosong. Itu semua harus dibayar.

Lalu bagaimanakah kita harus membayarnya ?. Mengutip apa yang dikatakan oleh sahabat saya,

Ya, Bekerja! Kerja dan kerja!, begitu saja kok repot !”

Saya memang harus banyak belajar tentang kehidupan dari sahabat saya ini. Memang hidup ini mahal, tapi mahal tidaknya tergantung pada bagaimana kita hidup dan bagaimana kita mencukupi hidup. Bekerja adalah salah satu cara untuk mengurangi kata ‘mahal’ tapi juga bisa menjadi tombak bermata dua yang menjadikan kata ‘mahal’ menjadi ‘sangat mahal’.

Ah, Mahal…

 

Iklan

21 thoughts on “MAHAL”

  1. Semoga kita semua diberikan kelancara rezeki dari tuhan… Agar bisa mengubah mahal menjadi Murah dan Gampang… Aamiin . . .
    yang lebih penting lagi, semoga selalu sehat 🙂 Sukses trus Kak

    Disukai oleh 2 orang

  2. Mahal telah mnjdi kawan kita. Harga bensin di kampungku aja mhal, tp kmi telah trbiasa. Nah, klau pas harga turun, rasanya jelas beda..hanya saat k SPBU kmi merasakan harga BBM brsubsidi..

    Disukai oleh 1 orang

  3. Ya …tak ada yang gratis di dunia ini,semua serba dibayar.
    dan yang paling mahal harganya ya kesehatan kita sendiri, tapi terkakadang kita lupa bahwa sehat itu mahal.
    smg kita selalu sehat ya mbak, shg tidak semakin merasa mahal hidup di dunia ini. Aamiin..

    Disukai oleh 2 orang

  4. Syukurlah kalau ‘mahal’ sudah menjadi kawan. Artinya bukan lawan dan masyarakat sudah terbiasa.
    Soal Bensin, Ayu pernah dengar kalau memang pemerintah mengalihkan subsidi BBM di beberapa wilayah di Indonesia untuk dipergunakan sebagai biaya pembangunan bagi daerah lain yang tertinggal, seperti di Papua. Ayu tidak akan keberatan kalau hal demikian terjadi, ya…semoga hasil subsidinya tidak di korupsi saja. Pasti sakit lah rasanya…hehehehe.

    Sukses terus di sana, Kak.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Setuju kata Bunda. Sehat itu mahal. Kerja (sebagai salah satu pemenuhan apa2 yang mahal td) butuh sehat agar tetap lancar.

    Semoga sehat selalu mbk Ayu 🙌

    Disukai oleh 1 orang

  6. Banyak Mas Diptra, Ini adalah beberapanya:
    1) Mata
    2) Payung ( Dalam Bahasa Tagalog, Payong. Beda ‘o’ dan ‘u’ )
    3) Hidung ( Dalam Bahasa Tagalog, Ilung. Sedikit mirip)
    4) Aku ( Dalam Bahasa Tagalog, Ako. Beda ‘o’ dan ‘u’).
    5) Empat ( Dalam Bahasa Tagalog, Apat. Mirip dikit).
    6) Pintu ( Dalam Bahasa Tagalog, Pinto. Beda ‘o’ dan ‘u’)
    7) Murah ( Dalam Bahasa Tagalog, Mura. Tanpa ‘h’)
    8) Mangga.
    9) Anak
    10) Salah ( Dalam Bahasa Tagalog, Sala. Tanpa ‘h’)

    Dan masih banyak lagi. Perbedaan mencolok adalah pada penggunaan huruf ‘o’ dan ‘u’. Tagalog kebanyakan menggunakan huruf ‘o’. Mungkin karena letak geografis dan juga sejarah nenek moyangnya maka bahasa Tagalog banyak kemiripan dengan Bahasa Indonesia dan melayu. Menurut salah satu teman saya (Saya belum konfirmasi kebenarannya) , nenak moyang mereka berasal dari tanah Borneo atau Kalimantan.

    Hehehehe…Demikian Mas..

    Disukai oleh 1 orang

  7. Ia Kalau soal penampakan, physical features, orang Filipina memang sangat mirip dengan orang Kalimantan. Waktu Ayu masih awal-awal disini, selalu di bilang orang asli ini (Padahal bukan..hiks).

    Disukai oleh 2 orang

  8. hihi saya kalo ke Filipina jangan-jangan dikira orang sana juga. Soalnya seperempat bagianku mengalir darah Borneo. Pas ke Banjarmasin pekan lalu juga saya dikirain orang asli Banjar.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s