Hati yang rela untuk mendengarkan

Beberapa waktu ini, saya disibukkan dengan jadwal terapi yang tidak beraturan. Banyak klien yang datang dan meminta waktu spontan untuk hanya sekedar berbicara. Sebagai seorang perawat, apalagi dengan spesialisasi keperawatan jiwa (Maaf, setelah membaca ulang, kalimat ini nampaknya sangat sombong). Saya sadar betul bahwa waktu untuk duduk dan mendengarkan adalah terapi yang sangat berharga untuk klien. Oleh sebab itulah, menyediakan waktu untuk klien, hadir untuk menemaninya berbicara adalah bagian dari asuhan keperawatan yang sangat penting.

Sahabat saya dari spesialisasi keperawatan yang lainnya pernah berkata bahwa pekerjaan saya setiap hari adalah “Ngerumpi” tidak jelas. Baiklah, saya terima penilaian demikian. Karena memang bukan hal yang baru bagi saya. Saya sudah sering mendapatkan perlakuan mis-persepsi demikian.

Sebagai seorang perawat jiwa, komunikasi adalah senjata utama untuk merawat klien. Komunikasi dapat dilakukan dalam bentuk verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal inilah yang kerap disalah artikan oleh banyak perawat dari spesialisasi lain. Kerap, klien datang bukan pada saat jam terapi yang dijanjikan, masalah seperti ini terjadi ketika klien sudah tidak dapat menahan hal yang sangat ingin ia sampaikan kepada perawat atau terapisnya. Apakah saya harus menolak klien demikian ? tentu jawabannya tidak, karena bagi saya, ini adalah kesempatan untuk dapat mengenal klien saya dengan lebih baik dan memasukkan terapi yang dibutuhkan pada klien saya. Tindakan inilah yang kerap menjadi salah pengertian dari banyak sejawat yang lainnya.

Tapi, tindakan seperti inipun tidak baik untuk dilakukan. Karena dari pihak perawat yang bersangkutan akan menderita kerugian. Kerugian waktu, tenaga dan tidak mendisiplinkan klien. Tindakan ini juga memicu ketergantungan yang tidak mendidik. Ya…hanya jika sikap seperti yang saya gambarkan sebelumnya terus berlanjut tidak karuan.

Karena senjata seorang perawat jiwa adalah komunikasi, maka seorang perawat harus mengenal dasar-dasar komunikasi. Hal yang paling mendasar adalah mendengarkan. Tidak seperti pembicaraan biasa, komunikasi yang dilakukan oleh perawat, diharapkan bersifat terapeutik atau dalam artian komunikasi yang membawa kesembuhan. Dengan mendengarkan, perawat sudah berupaya untuk meringankan beban klien. Untuk menjadi pendengar yang baik, seorang perawat diharapkan untuk dapat menyediakan diri, hadir dan ikut terlibat secara aktif dalam proses komunikasi.

Maka, seperti yang pernah dikatakan oleh salah satu klien saya,

“Perlu hati yang besar untuk bersedia mendengarkan“

Mendengarkan disini bukan hanya mendengarkan, tapi benar-benar mendengarkan dan paham dengan apa yang dibicarakan. Mendengarkan tanpa interupsi dan mendengarkan dengan membiarkan klien mengungkapkan apa yang ada dipikirannya tanpa berusaha untuk melakukan penilaian yang berlebihan dan memberikan saran yang tidak perlu.

Keterampilan yang nampak sederhana tapi pelaksanaannya ini sulit sekali, membutuhkan pelatihan yang panjang dan kesabaran yang tidak main-main. Dilatarbelakangi oleh budaya asal saya yang lebih suka berbicara dan kadang ‘nyolot’ berlebihan, menahan diri untuk tidak memberikan balasan pembicaraan pada klien atau orang lain nyaris mustahil dilakukan.

Tapi, dengan hati yang siap dan rela, maka hal ini dapat dilakukan. Cukup tambahkan jam latihan dan evaluasi diri yang terus menerus.

Semoga bermanfaat.

Salam perawat,..

Iklan

8 thoughts on “Hati yang rela untuk mendengarkan”

  1. Berarti mbak frani semacam terapis buat penyakit jiwa? Misalnya skizofrenia dan bipolar.

    Pasti berat buat mengerti pasien-pasien semacam itu karena mereka yg terkena gangguan jiwa hampir memiliki kepercayaan yg di luar nalar manusia.

    Disukai oleh 2 orang

  2. Saya adalah Perawat Jiwa, tugas Ayu memang merawat klien-klien dengan gangguan kejiwaan seperti yang Mas Shiq4 sebutkan.

    Berat atau ringannya menghadapi masalah klien, sangat subjektif. Sejauh ini, ringan atau beratnya bervariasi, tapi Ayu secara Pribadi bahagia membantu saudara/i kita yang memiliki ‘dunia’ yang nampaknya berbeda dnegan dunia kita pada umumnya.
    Ia, dalam bahasa indonesia, kepercayaan diri yang berlebih ini disebur “Waham”. Banyak kali, klien merasa bahwa Ia adalah seorang yang terkenal, dewa bahkan mengaku sebagai utusan Tuhan (Yang jika dicek kebenarannya, adalah tidak benar). Ada tantangannya sendiri untuk menghadapi klien dengan masalah seperti ini. Tapi, memang ada seni dalam pemberian asuhan keperawatan yang bertujuan untuk mengembalikan mereka kepada kesadaran dunia kita.

    Menarik bukan ? hehehehehe

    Disukai oleh 1 orang

  3. So proud…

    Pernah punya pengalaman ke dokter… hanya ditanya sakit apa, pegang dikit pasang stetoskop, trus tulis resep… dan disilahkan keluar… hahaha mungkin dia lelah…

    So.. keep talking… be nice and enjoy your job

    Disukai oleh 2 orang

  4. Wow, pekerjaan Anda memang erat dg caring ya. Menjadi pendengar yg baik bagi klien itu pstinya tdk mudah, butuh latihan yg luar biasa.

    Ya, memang harus bgtu kan. Dan sy ykin pula, bahwa pendengar yg baik pasti juga adlah pembicara yg baik. Bgmna bisa ksh solusi scra verbal klau mndngarnya sembarangan.

    Sip, mbak Maria. Sukses trus mnjlni profesi Anda.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s