Memaafkan diri sendiri

Beberapa hari yang telah lewat, diantara berita-berita tentang pengeboman, dan beberapa berita menguras air mata lainnya, ada satu yang menarik hati saya. Berita yang ditulis oleh banyak wartawan di Indonesia ini menyorot curhatan seorang artis yang bernama, Petra Sihombing.

Hal yang menyentuh saya adalah ketika Petra Sihombing menulis di akun Instagramnya demikian :

“…Gue belajar untuk memamaafkan. Memaafkan orang lain. Memaafkan diri sendiri. Ga gampang. Tapi satu hal yang gue sadari itu, dengan memaafkan, luka bisa disembuhkan,”

Petra Sihombing

Saya tidak dapat menahan diri untuk tidak memberikan ‘like’ pada tulisan yang berbunyi seperti diatas. Tulisan diatas menjelaskan hasil dari perjuangan melawan masalah yang tidak main-main didalam kehidupan. Dan si penulis, sudah keluar sebagai pemenangnya.

Memang, perihal memaafkan adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Memaafkan dapat diartikan sebagai kerelaan untuk melepaskan hal yang sudah melukai, menyebabkan kita sengsara, ketidakadilan; dan merelakan diri kita untuk tidak menuntut balas terhadap sesuatu tersebut. Butuh usaha dan energi yang sangat banyak untuk dapat mewujudkan kata ‘maaf’. Salut bagi mereka yang dengan keberaniannya mengatakan “Aku memaafkanmu” atau “Aku mengampunimu”.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, maaf atau tidak memaafkan tercipta dari kerelaan untuk melepaskan sesuatu yang tidak adil terjadi pada diri kita sendiri. Penyebab dari ketidakadilan ini kebanyakan berasal dari luar diri, orang lain. Tapi, tidak banyak yang menyadari bahwa keadaan ini juga banyak kali terjadi karena diri kita sendiri. Rasa sakit hati, luka yang disebabkan oleh orang lain dapat berdampak pada diri kita sendiri. Orang-orang dengan pemikiran mendalam tentang dirinya sendiri akan banyak melakukan tindakan “menyalahkan” diri sendiri. Dan tindakan menyalahkan diri sendiri hanya akan menimbun kebencian mendalam yang dapat berakhir pada keputusan untuk memutuskan hubungan antara diri sendiri dengan dunia.

Petra Sihombing telah berhasil sampai tahap ini, Ia berhasil melihat ada yang salah dari dirinya, tapi Ia tidak berhenti disitu saja. Ia melanjutkan dengan belajar untuk ‘memaafkan dirinya sendiri’. Tindakan kesatria menurut saya. Karena saya sendiri belum tentu sekuat dan setegar Petra. Salut untuk Petra. Sebagai balasan atas keberaniannya, Ia dianugerahi kesembuhan. Sebuah kesembuhan batin yang hanya bisa diberikan oleh dirinya sendiri.

Semoga kita sekalian dianugerahi kemampuan untuk memaafkan orang lain dan terlebih lagi diri kita sendiri.

Salam.

Iklan

14 thoughts on “Memaafkan diri sendiri”

  1. Hah klo saya tuh paling sulit memberi maaf. Nggak tahu kenapa saya kok jadi gini. Padahal hanya gara2 satu pengalaman saja. Karena tidak mau kejadian buruk yg sama terjadi, maka saya cenderung malas memberi maaf sama orang lain.

    Disukai oleh 2 orang

  2. Hi, Kang Nur. Ia benar sekali, meminta maaf adalah sebuah tindakan, tindakan ini diharapkan nyata dan tidak hanya berada di angan-angan saja. Meminta maaf memerlukan kerendahan hati menurut saya. Kerendahan hati untuk meredakan ego dalam diri dan mengedepankan kedamaian bagi sesama. Terima kasih sudah mampir, Kang Nur.

    Salam.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Hi, Mas Shidiq. Ayu menyebut keadaan yang dialami oleh Mas shidiq sebagai upaya diri untuk melindungi diri sendiri dari luka, dari trauma. Bagi Ayu, wajar hal demikian terjadi. Tapi, harapan Ayu, jangan berlebihan ya…kasian nanti hehehehe.

    Disukai oleh 1 orang

  4. memaafkan diri sendiri kadang susah yaa, sama aja si kayak maafin orang lain, tp balik lagi berdamai dengan diri sendiri untuk bahagia itu yg penting šŸ˜€

    Disukai oleh 2 orang

  5. Ia, Ayu setuju dengan pendapat bloggergalau. Memang memaafkan diri lumayan sulit, apalagi kita yang hidup dengan ego yan tingginya lumayan hehehehe (Seperti saya contohnya). Tapi, hal ini bisa dicapai dengan belajar, dan pasti bisa kok ! Optimis!

    Disukai oleh 1 orang

  6. “Tanpa merelakan sesuatu, kita tidak akan bisa merubah apapun” – Attack on Titan šŸ˜€
    Memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri itu sulit kak. Karena di titik ini, kedewasaan kita diuji.

    Thanks for your magnificent story!

    Disukai oleh 2 orang

  7. Meminta maaf itu sulit, tetapi memaafkan jauh lebih sulit
    tetapi kita harus selalu menguasahakan keduanya untuk kebaikan diri kita sendiri
    Begitu kan mbak Ayu?

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s