Belum selesai dengan dirinya!

Rasa iri, cemburu adalah racun didalam diri yang bisa membunuh perlahan-lahan tapi pasti orang dengan rela memelihara sikap ini. Demikianlah kesimpulan saya setelah saya membaca dan menyaksikan sendiri beberapa kisah hidup orang-orang yang hidup dalam keadaan ‘iri, dengki dan cemburu’ (Yang berlebihan).

Beberapa serial drama romantis contohnya drama Korea (Drama dari negeri Korea selatan) menggambarkan tokoh dengan sifat iri, dengki dan cemburu sebagai tokoh antagonis. Kisah mereka digambarkan seburuk mungkin dan berhasil membuat penonton membenci tingkah laku mereka bahkan orang yang memerankan tokoh tersebut.

Ketika saya berencana untuk menuliskan tentang tulisan ini dan berlanjut dengan menuliskan setiap kata didalam tulisan ini, Saya membentuk sendiri perasaan ‘kasihan’ kepada tokoh yang memiliki dan memilih untuk berperan sebagai tokoh yang iri, dengki dan cemburu.

Sikap dan sifat ini membuat saya teringat dengan sebuah kalimat dari seorang penulis.

“Mungkin, Ia adalah orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri”

Demikian kalimat yang menjadi kesimpulan dari sebuah tulisan yang lebih banyak menyinggung hal politik tersebut.

Saya pada titik ini, sangat setuju dengan kalimat diatas. Mereka yang memiliki kadar kuat sikap iri, dengki dan cemburu adalah mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Maksudnya adalah mereka yang belum mengenal dirinya sendiri secara penuh dan menolak untuk mensyukuri nikmat kehidupan yang mereka miliki. Ya, mungkin kata ‘menolak’ tidak terlalu tepat, mungkin saja ini ada hubungannya dengan ‘ketidaktahuan’ mereka akan potensi diri yang mereka miliki.

Rasa kasihan saya mungkin muncul karena hal ini. Kenyataan bahwa mereka yang memiliki rasa iri, dengki dan cemburu yang kuat didalam dirinya adalah mereka yang memiliki tidak cukup pengetahuan tentang dirinya sendiri.

Oleh sebab itulah, untuk menghadapi orang dengan golongan seperti ini, patut bagi kita untuk menunjukkan kebaikan, kelebihan yang mereka miliki, yang ‘luput’ dari pandangan mereka sendiri. Dengan menunjukkan kepada mereka bahwa mereka memiliki potensi diri yang luar biasa untuk menjadi lebih baik, harapannya mereka akan menjadi lebih menghargai diri mereka, mengoptimalkan potensi diri dan mengurangi kadar iri, dengki dan cemburu yang berlebihan dalam diri mereka.

Salam dari perantauan.

Minggu, 7 May 2017 pukul 12.35 am.

Iklan

3 thoughts on “Belum selesai dengan dirinya!”

  1. Hmmm…benar benar mulia jika kita bisa membantu menunjukkan kelebihan “orang yang belum selesai” itu ya mbak Ayu, tetapi aplikasinya tentu tidak gampang; Karena kebanyakan orang jika melihat atau menemui orang pendengki pencemburu dsbg langsung menjauhi atau membencinya. Orang yang dapat melakukan itu hanyalah orang yang berhati emas. Semoga saya memiliki kesempatan berlatih menjadi orang seperti itu.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ia, Bu. Saya sependapat. Memang sangat tidak mudah untuk menemukan kebaikan dihati orang yang mungkin sudah terkenal dengan ke’buruk’kannya. Tapi memang, jika kita memang peduli dan benar peduli, sangat dianjurkan untuk membantu orang-orang dengan kasus seperti ini. Aamin Bu, Semoga kita bisa berjalan kearah sana, berlatih menjadi insan yang peduli dan penuh kebijaksanaan.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s