Seminar wajib ? (What ??)

Seorang sahabat saya menceritakan kisahnya di telpon siang ini. Lama tidak terdengar kabarnya, saya berharap agar Ia membawakan saya sebuah kabar yang baik dan mententramkan jiwa. Tapi, yang saya peroleh siang ini adalah perasaan tidak nyaman karena kepedulian saya terhadap sahabat saya ini yang ‘malang’ nasipnya, dari sudut pandang saya.

Sahabat saya ini bercerita bahwa Ia merasa sangat keberatan dengan kebijakan fakultasnya untuk ‘mewajibkan’ mahasiswa/i-nya untuk ikut berpartisipasi dalam seminar yang Ia deskripsikan sebagai ‘yang tidak menarik’ perhatiannya. Kadang, saya merasa sahabat saya ini terlalu ‘langsung’ pada tempatnya ketika sedang berbicara. Bukannya saya tidak suka, hanya saja saya sedikit terheran-heran karena Ia berasal dari suku yang terkenal dengan sikap lemah lembut dan segan untuk berbicara langsung terutama untuk hal yang bisa digolongkan buruk.

Kalimat yang sangat melekat diotak saya saat Ia berteriak di telpon adalah “Seminar wajib?, what??” mungkin sambil mengekspresikan wajah tidak percayanya.

Sebagai sahabat yang berusaha untuk bersikap baik dan berusaha untuk tidak menjadi angin yang semakin membuat bara api didalam dirinya menyala dan membakar sekitarnya. Saya berusaha dan mengusahakan diri untuk tidak banyak memberikan komentar. Saya berharap, Ia tidak berpikir bahwa saya tidak peduli. Saya pada dasarnya peduli, tapi mungkin cara mengekspresikan ketidaksetujuannya saya agak berbeda dengan dirinya.

Lucu rasanya mendengar kata, “Wajib” untuk kegiatan yang selayaknya bisa di’pilih’ sendiri. Wajib diikuti dengan bayangan ‘mengeluarkan rupiah’ pada ujung-ujungnya kadang membuat saya sedikit tidak nyaman. Acara-acara seminar sekarang memang sangat menjamur, kadang banyak yang manfaatnya layak untuk dipertanyakan. Kadang, ada juga yang dengan teganya, mamanfaatkan acara dengan tujuan pendidikan ini untuk ‘menarik keuntungan’ dengan semaksimal mungkin. Sedih juga menerima kenyataan seperti ini.

Mungkin teriakan sahabat saya ini juga adalah ekspresi dari betapa rindunya Ia akan, ‘seminar’ gratis dan berbobot yang hampir tidak mungkin ‘ada’. Saya berharap selepasnya Ia dari pendidikannya, Ia akan mewujudkan mimpi yang terkesan mustahil ini.

Baiklah sahabat, dengan sabar sahabatmu ini akan menerima keluhan-keluhanmu. Maaf, karena bara api dalam diri saya ikut tersulut karena kisahmu.

Salam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s