Jatuh pada ‘cinta’

Mata sahabatku memandang nanar keluar jendela Cafe’. Saya yang duduk didepannya tidak diajaknya tenggelam dalam pikirannya yang nampak kalut. Saya gerakkan tangan saya dengan tidak sabar, menunggu Ia memberi saya jawaban, kata atau apalah sehingga saya tidak mati duduk karena penasaran. Saya sengaja meminum es kopi didepan saya sambil menggeluarkan suara, harapannya adalah Ia mau mendengarkan, Ia mau membagi pikirannya saat itu.

Jatuh cinta itu tidak mudah ya…” Akhirnya, kalimat yang saya nantikan keluar dari mulut sahabat saya ini. Tapi, sayangnya ini bukanlah kalimat yang saya harapkan keluar dari mulutnya. Sudah sangat lama semenjak kami membicarakan topik tentang ‘cinta’. Memang, seakan tidak sesuai dengan usia kami dan juga tidak ‘lazim’ jika dibandingkan dengan topik-topik pembicaraan kami selama ini.

Semalam, saya menjalin kembali kontak dengan cinta yang sudah lama saya lupakan” Sahabat saya mulai bercerita. Saya membetulkan duduk saya dan mempersilahkan Ia untuk bercerita.

Entah mengapa, dada ini nampak sesak. Entah mengapa, nafas ini menjadi tidak teratur. Saya melihat diri saya yang sudah lama saya lupakan ketika saya berbicara dengannya. Saya tahu, saya terlihat tolol, bahkan didepan cermin. Saya juga tahu, dari dlam lubuk hati saya yang gelap ini, saya masih menyimpan harapan untuk dia dan saya“. Sahabat saya masih memandang keluar ketika Ia berbicara pada saya. Saya seketika tahu, tidak mudah baginya untuk menceritakan apa yang Ia alami, meskipun itu terhadap saya sahabatnya.

Saya selalu menjadi diri saya sendiri ketika bersamanya” Tuturnya lagi.

Lalu, saya memberanikan diri untuk mengeluarkan suara.

Lalu, sekarang masalahnya apa?” tanya saya.

Masalah ?” Ia nampak diam dan menunduk lalu sahabat saya yang jauh lebih cantik dari saya ini memandang saya sambil berbicara.

Masalahnya adalah hingga saat ini, Ia masih memiliki kekuatan untuk mengobrak-abrik perasaan saya” jawabnya dengan mata yang agak sedih.

Saya tidak bisa berkata apa-apa. Kalimat sahabat saya ini menjawab semua tingkah lakunya hari ini. Diam dan seakan mengabaikan saya sebagai sahabatnya.

Hatinya sedang teralihkan dan Ia sedang kalut.

Ingin sekali saya menawarkan bantuan. Tapi, beberapa waktu yang lalu, kami sepakat bahwa masalah pribadi seperti ini tidak dibahas panjang lebar. Karena tidak akan pernah ada perubahan. Ini adalah area yang tidak bisa kami intervensi seenaknya saja. Sahabat saya waktu itu mengatakan, “Ini masalah hati!“.

Akhirnya, saya hanya memutuskan untuk diam dan menemaninya duduk diam disana. Kami seakan orang asing yang baru saja bertemu. Saya harap ini bisa membantunya. Dalam hati, saya sungguh berharap demikian.

Iklan

3 thoughts on “Jatuh pada ‘cinta’”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s