Nafsu belanja dan Kekosongan Diri

best-shopping-in-bucharest

Belanja, Kegiatan menukar uang dengan benda-benda yang memiliki nilai yang kurang lebih sama dengan nilai uang yang ditawarkan. Disebut juga proses mewujudkan ‘benda’ atau kebendaan dari barang atau benda yang bernilai. Jangan diperdebatkan dari mana saya mendapatkan definisi ini, tapi ya begitulah. Atau da Emak-emak yang akan mengatakan bahwa belanja itu adalah “memberi uang ke penjual dan mendapatkan barang dari penjual”, jangan lupa, “kembalian”.

Belanja adalah kegiatan yang paling identik dengan ‘wanita’. Wanita disebut sebagai pribadi yang paling gemar untuk berbelanja. Para pria sebenarnya juga suka melakukan hal ini, tapi kegiatan belanja pria mungkin tidak seheboh kegiatan belanja wanita.

Pada dasarnya, wanita adalah makhluk yang penuh pertimbangan dan sosok yang sangat pemilih. Ya, Pria juga memiliki sifat ini, tetapi wanita mungkin lebih mendominasi. Karena sifat timbang-menimbang, pilih-memilih inilah maka wanita menghasilkan perilaku yang menghebohkan ketika berbelanja. Bisa dilihat dari waktu belanja yang luar biasa lamanya, dan juga betapa hebohnya tawar menawar yang dilakukan oleh keturunan Hawa ini.

Namun, jauh dari ini semua, saya melihat bahwa perilaku berbelanja bukan saja didasari oleh kebutuhan, tapi juga hal lain yang cukup sensitif. Kegiatan berbelanja yang berlebihan bisa jadi adalah seruan dari dalam jiwa, seruan rasa sepi dan kosong yang selalu meminta untuk dipenuhkan.

Saya memberi kesimpulan demikian karena banyak hal, salah satunya dalah karena sikap terus menerus yang dilakukan. Bukan hanya itu, saya juga melihat dari kegunaan dari balang belanjaan itu sendiri. Wajar bagi para ibu-ibu untuk membeli kebutuhan dapur, yang memang akan habis pakai, karena diolah menjadi makanan bagi keluarga. Tapi, bagaimana dengan hal lain?, Misalkan. Pakaian. Ya, saya tahu, pakaian pun akan digunakan. Tapi, pada beberapa wanita, pakaian dibeli, lalu ditumpuk dan dibiarkan demikian saja, menumpuk dan terus menumpuk.

Ingat, ada sebuah film dengan judul “Confession of Sophaholic”. Ya, kurang lebih demikian.

Belanja adalah kegiatan untuk menukar, menukar sesuatu yang bernilai dengan sesuatu yang juga bernilai. Harapannya adalah benda hasil penukaran dapat memiliki nilai yang menguntungkan dan lebih dari benda yang ditukar. Mungkin demikianlah kerja alam perasaan nun jauh disana, Ia berusaha untuk menukar apa yang Ia miliki untuk mendapatkan sesuatu dari luar. Mengisi tidak ‘bernilai’nya miliknya didalam.

Online shopping

Saya, tahu ini semua terkesan klise. Tapi, saya berbicara dari pengalaman saya sendiri dan juga hasil interaksi saya dengan mereka yang menaruh ujung hidupnya pada ‘belanjaan’ mereka.

Orang-orang seperti ini, sebenarnya berteriak untuk minta ditolong. Tapi, kadang memang telinga kita disekitar seperti tersumbat kotoran telinga tingkat berapa begitu, sehingga kadang, kita memilih untuk cuek, atau mengabaikan saja. Bahkan yang lebih parahnya, kita malah memberikan komentar yang tidak seharusnya.

Semoga dengan tulisan ini, ada sedikit perubahan yang bisa saya sumbangkan. Minimal pada diri saya sendiri.

Salam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s