Atribut Natal dan Larangannya : Reaksi Saya

20160814_222107

Beberapa saat, saya sedikit terganggu dengan banyaknya artikel yang terkait dengan pelarangan penggunaan atribut yang ada hubungannya dengan perayaan natal di negeri tercinta. Terganggu bukan dalam artian negative, tapi lebih kepada hal yang positive. Setidaknya tulisan-tulisan dari orang-orang yang saya baca ini membuat saya menghentikan kecanduan saya sejenak terhadapa Webtoon. Teman-teman saya memang sudah memperingati saya, “Keluar dari tempat persembunyianmu, dan bersosialisasilah“. “Itu baik bagi kesehatan“, tambah mereka. Saya dengan sombongnya mengatakan, “Ah, tidak ada yang menarik dari dunia di luar sana!”. Tapi, berkat tulisan-tulisan yang dishare-kan teman-teman yang baik hatinya ini, saya harus menarik perkataan saya sebelumnya dan meminta maaf. Saya memang tidak tahu apa-apa. Bahkan tidak kenal dengan diri sendiri. Terima kasih teman-teman.

Mengenai larangan penggunaan atribut Natal ini (Saya sebut, kata ‘larangan’, karena saya tidak tahu kata apa yang cocok disematkan di kalimat ini), teman-teman saya sampai membagi diri mereka kedalam dua kubu. Kubu yang setuju dan kubu yang tidak setuju. Teman-teman saya seperti yang saya khawatirkan, bertanya kepada saya, “Masuk kubu manakah dirimu?”.

Sejenak berpikir (Sebenarnya, lama banget mikirnya ). Pikir di pikir, saya akhirnya memberi jawaban. Jawaban saya begini “ Kalian bertanya demikian, kepada saya yang berperan sebagai apa?” (Binggung ya, ya..sengaja saya buat bingung, biar mereka bertanya balik lalu mereka lebih pusing memikirkan masalah baru yang saya timbulkan dibandingkan meminta hal jawaban dari pertanyaan mereka sebelumnya). Seperti dugaan saya, mereka bertanya, “Maksudnya, apa?”. “Itulah maksud saya,” Jawab saya kemudian dengan sok main teka-teki. Ternyata ada juga teman saya yang kenyataannya lebih pintar dari saya dan berkata, “ Kami meminta jawabanmu sebagai seorang yang merayakan perayaan natal”. Lalu dilanjutkan dengan persetujuan dari kelompok-kelompok lainnya. Kemudian mau tidak mau saya menjawab, “ Ada kubu A dan kubu B, saya mau buat kubu sendiri, kubu C”. Dan mereka menyerah dan berkata “Yah…..” karena mereka tahu, seperti diskusi-diskusi sebelumya, saya pasti akan absent dan tidak mau ikut ambil bagian lebih jauh, lebih memilih diam dan mendengar dan melihat gerak-gerik silat dari teman-teman.

Jika saya boleh memberikan suara saya (Saya tahu, saya bebas untuk memberikan suara sana, ini adalah jaman dimana hak untuk berpendapat dan mengeluarkan ide dijamin oleh hukum internasional). Maka saya akan menjawab seperti ini,

Jika ditanya pendapat saya sebagai seorang yang ikut merayakan perayaan Natal, atau jika lebih jauh, mengimani kelahiran Juru selamat, inkarnasi Allah menjadi Manusia. Maka mengenai larangan yang diterbitkan tersebut, maka saya bersikap “tidak ambil pusing”. Bagi saya tidak masalah dan hal demikian tidak memberi saya efek atau dampak negatif. Saya mungkin cukup prihatin dengan nasip mereka yang berjualan ornament-ornamen Natal, mungkin saya pendapatan mereka akan menurun dalam waktu ini. Bagi saya, larangan tersebut, tidak mengurangi makna perayaan “natal” yang saya dapatkan pada tahun ini. Perayaan natal dengan atau tanpa ornamen natal tidak mengurangi nilai-nilai spiritualitas yang saya peroleh dalam perayaannya. Yesus yang saya Imani lahir pada malam natal adalah Yesus yang miskin dan sederhana, Ia yang kelahirannya dinantikan banyak orang, namun ditunjukkan hanya kepada segelintir orang.

Saya tidak mempermasalahkan akan ada larangan-larangan lainnya terkait dengan praktik keagamaan atau tradisi keagamaan saya kelak. Karena bagi saya, kejadian-kejadian seperti ini adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri saya kepada yang maha Kuasa dan memperdalam keimanan saya yang saya harapkan tidak cuma ngomong doang ini. Bagi saya, praktik keagamaan saya adalah urusan saya dengan Tuhan saya, memang sedikit banyak akan dan mau tidak mau bersinggungan dengan mahkluk ciptaan Tuhan yang lain, tapi saya harus membatasinya, dengan menggaris tegas, cukup Tuhan dan saya. Saya tidak mengharapkan Tuhan untuk mengerti, karena saya tahu KekuasaanNya jauh lebih besar dari akal pikiran saya yang mungkin tidak lebih besar dari upil ini, setidaknya ya semoga Dia berkenan memberikan kesempatan untuk meluapkan perasaan saya.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, memang nampaknya tidak menarik, tapi percayalah, saya tulus menuliskannya (Maaf, tidak ada hubungannya sama sekali). Terima aksih bagi yang sudah baca, Salam hormat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s