Bapak Penjual Boneka Beruang

23a48ffe00000578-2991648-image-a-2_1426175957604

Malam itu, ketika saya dan kedua sahabat saya pulang dari Gereja. Kami melintasi samping Mall besar yang terletak hampir ditengah kota. Pemandangan malam itu lumayan, dengan jumlah kendaraaan yang cukup banyak dibandingkan hari sebelumnya paska perayaan holy week di Ibu Kota. Sambil bersenda gurau, kami berpapasan dengan seorang bapak yang sedang memikul boneka beruang di punggungnya. Ini bukanlah lagi hari cinta kasih atau valentine day, tapi si Bapak menjajakan boneka beruang kepada pengunjung yang lewat. Mall malam itu sudah lama tutup.

Si Bapak menggunakan topi usang, pakaian yang sudah tidak baru lagi dan sandal jepit yang hampir tidak layak pakai. Kulitnya hitam legam tanda bahwa Ia sudah lama berada di bawah teriknya sinar matahari. Kulitnya bahkan nambak keabu-abuan di bawah sinar lampu, tanda bahwa debu jalanan sudah menggilasnya hingga saat kami berpapasan dengannya. Badannya kurus bahkan terkesan kering, seorang petugas kesehatan mungkin akan berpikir bahwa si bapak mungkin sedang mengalami dehidrasi level sedang-berat. Suara si bapak tidaklah lantang, lemah dan serak, Ia berusaha untuk tersenyum sambil menawarkan boneka yang ada di genggamannya. Mula-mula pada orang-orang yang lalu lalang selanjutnya pada seorang wanita yang baru saja turun dari taxi. Hasilnya, nihil. Tidak ada yang berminat untuk membeli jualannya.

Nampaknya si Bapak tidak berhenti disitu, ia meneruskan perjalanannya menuju ke pusat kota dan saat itu hampir pukul 12 tengah malam.

Perjumpaan yang singkat dengan si Bapak penjual boneka beruang ini mengajarkan saya akan arti ‘bersyukur’ dan ‘tahu diri’. Mereka yang bahkan hampir tidak memiliki apa-apa masih bisa tersenyum dan melanjutkan usaha tanpa henti dan lelah. Terlintas dalam benak saya, bahwa hidup ini seakan tidak adil..tapi, Ah..hanya pemikiran saya lalu saya kembali diam dan terpaku pada tuts di hadapan saya. Kembali terlintas didalam benak saya, keluhan-keluhan, rasa kesal, ngambek dan niatan-niatan jahat saya, Oh…betapa buruknya saya. Sang pemberi hidup, mungkin sudah muah dengan keluhan-keluhan saya dalam malam-malam penuh penderitaan. Ah…saya benar-benar bodoh. Saya menjadi malu dengan si Bapak penjual boneka beruang.

Si bapak penjual boneka beruang mungkin tidak mengetahui apa yang sudah Ia perbuat, dengan keterbatasannya, Ia baru saja menyelamatkan satu jiwa, Saya. Ya..Saya. Tiada hal lain yang dapat saya pikirkan saat ini, selain berterima kasih atas pelajaran berharga yang tidak mungkin mudah saya lupakan.

Terima kasih Bapak penjual boneka beruang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s