Ketika “Extrovert” dan “Introvert” berada di Satu tempat yang Sama

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis apapun di sini, rasanya jari-jari ini kaku dan lumpuh. Saya memang terlalu terlena dengan pekerjaan saya yang akhir-akhir ini menyita seluruh waktu menulis dan berbagi saya.

Akhir-akhir ini, jujur saja saya sedikit ‘terganggu’ dengan kebisingan dan suara-suara tidak menentu yang pasti saja dihasilkan oleh makhluk-makhluk berjiwa atau secara tidak langsung oleh para makhluk berjiwa ini. Konsentrasi saya sedikit terganggu dan saya jatuh cinta pada kesunyian dan keheningan. Saya berusaha untuk menemukan tempat tersunyi di tempat tinggal saya dan saya harus mengakui, saya masih gagal menemukan tempat yang cocok untuk dapat saya tinggali. Saya merindukan masa-masa sunyi dalam hidup saya, terkurung sendiri didalam kamar pribadi saya dan hanya saya seorang diri disana.

Ini terjadi belum lama, ketika saya menyadari bahwa sebagian besar dari jiwa saya adalah jiwa penyendiri dan saya secara bebas mengkategorikan bahwa saya adalah seorang yang introvert. Saya menghabiskan sebagain besar waktu saya seorang diri dengan berdiskusi dan berkomunikasi dengan diri saya sendiri. Saya bukannya tidak normal, tapi memang untuk orang-orang yang menghargai waktu dengan dirinya sendiri akan menyetujui hal yang sama, dan ini normal adanya.

Hal yang saya sadari adalah bahwa saya sangat stress dan sangat terganggu dengan kebisingan atau orang lain yang mengganggu waktu ‘pribadi’ saya dengan diri saya sendiri. Ini terkadang aneh dan banyak orang yang akan menganggap ini adalah suatu ‘kesombongan’ , tapi saya berhadap, setelah mereka membaca ini, mereka mengerti bahwa ada ‘keadaan’ yang juga diluar kehendak dan niatan saya.

Bayangkan saja, jika orang seperti saya dipasangkan dengan orang yang memang sangat suka dengan keramaian dan hiruk pikuk, menyukai sosialisasi dan perbincangan hidup dengan orang lain ? dan lebih banyak waktu untuk itu dibandingkan waktu sendiri?. Tentu saja adalah kiamat bagi keduanya. Akhir-akhir ini, saya berhadapan dengan situasi yang seperti saya perbincangkan disini. Saya akui ‘saya mengalami stress’ dengan keadaan seperti ini. Saya tahu meskipun saya berusaha dengan jahatnya untuk peduli dengan teman saya yang merupakan seorang dengan kecenderungan ‘ekstrovert’. Ia yang dengan nyamannya mengajak saya untuk berbicara dan bercakap-cakap dan mungkin saja berbagi pemikirannya, yang ‘maaf’ bagi saya bisa Ia pikirkan sendiri tanpa harus dengan ‘nyaring’ mengatakannya pada dunia diluar dirinya. Saya merasa ini adalah sesuatu yang sangat tidak perlu dan sangat buang-buang waktu. Tidak harus selama dan seterusnya Ia harus melakukan ini , bukan ?. Saya dengan santainya ‘mengabaikan’ percakapan yang ia lakukan terhadap saya dan saya menyulap diri saya menjadi orang yang ‘tidak peduli’ dengan orang lain akibat ulah-nya ini. Saya tahu, saya berbuat jahat dalam hal ini. Tapi, saya merasa, diri saya sedang terancam dan saya tidak bisa melakukan apapun selain mengabaikan dan semoga saja sahabat saya ini sadar dengan apa yang saya lakukan dan juga apa yang sudah ia lakukan.

Dunia benar-benar menjadi sangat kacau dan tidak karuan akhir-akhir ini akibat penyatuan dua unsur yang berbeda jenis ini.

Dari peristiwa ini saya belajar untuk sabar dan yang terpenting adalah ‘mengerti’ dan ‘memahami’ orang lain dan juga diri sendiri. Saya teringat dengan sebuah kalimat yang mengatakan bahwa ” Dunia ini tidak meletakkan titik pusatnya pada dirimu tapi pada keadaan diluarmu”. Saya tahu, saya memang tidak boleh terlalu egois dengan diri saya sendiri dan saya harus berjuang keras untuk memaafkan diri saya sendiri dan berdamai juga dengan orang lain. Saya juga tidak bisa menyalahkan orang lain sepenuhnya dan juga menyalahkan diri saya sendiri di lain pihak. Untuk menghadapi hal ini, saya memusatkan diri saya dengan melatih teknik nafas dalam dan Let Go dan Let God. Saya harus belajar untuk menjadi dewasa dan belajar untuk hidup berdampingan dengan orang lain.

Catatan tambahan :

Untuk menghindari bersitegangnya saya dan teman saya, saya memutuskan untuk meninggalkan dan menjauhi tempat dimana kami berdua bisa sama-sama berada dan berpotensi ada didalam satu tempat. Dengan pengecualian, ketika saya sudah benar-benar siap untuk bersosialisasi dengan orang lain.

saya harap saya bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s