Setelah badai berlalu…

Sudah lama sekali rasanya jarak antara tulisan saya yang terakhir dengan tulisan saya saat ini. Saya sangat rindu untuk menulis dan berbagi beban saya dalam wadah ini. Tapi, saya mendapatkan masalah, saya tidak tahu apa yang harus saya bagikan kali ini. Saya sudah mencurahkan semua beban dan masalah saya pagi ini dalam Misa pagi yang menjadi satu-satunya rutinitas paling menggembirakan dalam menyambut hari.

Ya, saya ikut bergabung dalam perayaan unik khas masyarakat Filipina dalam menyambut Natal. Namanya adalah Misa de Gallo atau Simbang Gabi. Menurut Pastor yang memimpin Misa di pembukaan Novena ini, pada Desember 15, 2015. Simabng Gabi selayaknya perayaan bulanan untuk Bunda Maria dalam masanya mengandung Yesus. Novena ini, berjalan dalam waktu 9 hari yang melambangkan 9 bulan, Yesus dikandung oleh Bunda Maria, IbuNya. Menarik bukan ?.

Hal yang paling saya sukai adalah bahwa misa ini dilaksanakan pada pagi-pagi buta, yaitu tepatnya pada pukul 5 pagi. Saya suka suasana pagi akhir-akhir ini, matahari yang belum terbit dan gelapnya malam. Saya merasa, saya berada ditempat dimana saya seharusnya berada.

Saya sesungguhnya baru saja mengakhiri semester awal pendidikan master saya. Saya tidak memiliki banyak kesan yang bisa dibilang menarik, saya juga tidak bisa dibilang sangat menikmati masa-masa menghamburkan banyak uang seperti saat ini. Jujur saja, sekolah dan hidup disini sangatlah mahal. Saya tidak pernah bermimpi menjalani pendidikan semahal ini. Bukannya saja menjadi bersemangat, saya malah banyak diliputi oleh masa ‘tidak enak’ dna sungkan. Rasanya sama mau pulang saja…

Tapi, Tuhan…menunjukkan pada saya untuk kesekian kalinya dalam perjalanan ini. Bahwa bukan saya yang mengambil keputusan disini, tetapi Dia. Tuhanlah yang ingin saya berada disini untuk alasan yang masih menjadi misteri bagi saya. Saya ?. Jangan tanya, sampai saat ini saya masih sangat ‘marah’, ‘kecewa’ dan hampir tidak dapat berdamai dengan diri saya sendiri. Kenapa?. Karena saya mendapatkan luka yang sangat mendalam dan saya tidak diberi bekal untuk sembuh. akhirnya, saya pasrah dan inilah yang terjadi. Tuhan dengan eratnya menggenggam tangan saya dan mengatakan, ” Engkau harus tinggal “. Yupz…saya bisa bilang apa?.

Saya menjalani masa-masa yang berat tidak hanya secara fisik, tapi juga mental. Masalah mental adalah masalah terberat yang harus saya tanggung dan saya masih bisa bertahan hingga saat ini. Saya termasuk salut dengan diri saya sendiri.

Badai memang sudah berlalu, tapi dampak dari badai itu masih saja terjadi pada saya saat ini. rasanya…seperti itulah. Apa yang bisa saya lakukan ? saya belajar untuk mempersiapkan kedatangan badai yang selanjutnya akan terjadi dalam hidup saya. Apa saja ? bagaimana ? saya tidak tahu. Saya hanya ingin mengaktifkan mode “siaga” secara terus menerus dan siap “perang” dan berlindung” dan sebagainya.

Rindu ?. Ya, tapi saya juga sangat lelah dengan sikap kekanak-kanakan seperti ini. Saya mulai tidak tahan lagi. Apa produk dari rasa rindu ini? saya bahkan tidak tahu dan saya tidak melihat wujudnya. ya, saya sedikit skeptis, tapi saya masih ingin bertahan dan melihat sampai sejauh mana saya dapat bertahan.

Setelah badai berlalu, saya mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk badai selanjutnya yang akan datang.

Salam untuk diri saya sendiri.

storms

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s