Mereka yang terlupakan

12191483_1657949961120124_1586199064403489348_n

Beberapa hari yang lalu, bertepatan dengan hari peringatan Arwah orang beriman, salah satu keluarga saya memposting gambar ini di akun Facebook-nya. Saya kembali diingatkan bahwa saya juga mempunyai keluarga jauh yang benar-benar jauh saat ini. Ya, mereka yang sudah mendahului ke dunia seberang dan mereka yang saat ini berada dalam rahmat pengampunan dari Allah. Saya kembali memutar kaset lama dan mengingat mereka semua. Mereka yang akan tinggal dan hidup dalam memori saya.

12118818_1658056317776155_546555332358706327_n

Saya, tidak pernah benar mengenal siapa kakek dan nenek saya dari pihak Ayah. Saya masih sangat kecil saat itu dan memori tentang mereka tidak saya temukan ( Ini membuat saya sangat sedih). Hal yang saya ingat tentang mereka hanyalah ekspresi sedih dan sakit hati Ayah saya ketika menerima kabar kepulangan Kakek dan Nenek saya ke pangkuan Bapa di Surga dari keluarga saya di Atambua. Sedih sekali rasanya. Saya tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dan mengenal mereka secara pribadi sebagai seorang cucu.

Kakek saya adalah orang yang penting di dalam komunitas. Kakek saya adalah salah satu kepala adat. sedangkan nenek saya adalah seorang ibu rumah tangga yang menurut ayah saya adalah orang yang sangat penyayang dan sangat mendukung niat ayah saya untuk sekolah dan merantau. Sebelum beliau meninggal (nenek), tante saya mengatakan bahwa nenek saya sedang menjahitkan kain yang nantinya akan diberikan kepada anaknya (ayah saya) yang jauh merantau ke seberang pulau. Kisah ini membuat hati saya hancur.

Saya memiliki sedikit ingatan tentang Nenek saya dari pihak ibu. Nenek adalah seorang wanita yang cantik, tradisional dan merupakan orang yang disayangi oleh ibu saya. Ingatan pertama saya tentang Nenek adalah ketika Ibu saya menerima surat dari tante saya di Kalimantan (saat itu saya berada di Timor Leste), mengabarkan bahwa Nenek saya sudah tidak ada. Saya ingat betul saat itu, ketika Ibu baru saja selesai membuat kue untuk kami sekeluarga dan langsung berlari menangis keras di kamar. Semua memori ini melukai saya hingga saat ini. Saya, untuk yang kesekian kalinya, tidak mengenal benar secara pribadi, siapa nenek saya. Ketika saya pulang ke Kalimantan untuk mengikuti pembaturan kuburan Nenek, saya kembali diingatkan bahwa Nenek saya pernah membawa saya ke pasar dan membelikan saya pakaian yang cantik. Saya ingat, pakaian itu masih saya gunakan dan diturunkan kembali ke adik perempuan saya.

12208602_1658056194442834_6079034163724416759_n

Diatas ini, adalah foto dari salah satu kakek saya. Beliau seingat saya, adalah orang yang sangat ayah saya hormati. Saya ingat, betapa Ayah sangat sedih ketika mengetahui bahwa beliau meninggal. Beliau meninggal karena ditembak ketika pulang kerja. Ayah bilang, beliau adalah satu-satunya keluarga yang dapat mengumpulkan keluarga lainnya menjadi satu dan membiayai mereka untuk sekolah. Ayah saya termasuk salah satu dari keluarga yang beruntung tersebut. Saya ingat, ketika hari pemakaman beliau, saya dan keluarga datang dan membantu. Untuk yang kesekian kalinya, saya kembali dikecewakan, saya tidak mengenal secara pribadi, siapa Beliau.

Saya juga memiliki seorang sepupu yang luar biasa. Ia adalah sepupu tertua dari keluarga besar ibu saya. Ia bisa dibilang pemimpin bagi kami semua dan juga merupakan orang yang paling dekat dengan saya. Namanya, IIN HELENA. Sejak pertama kali saya pindah ke Kalimantan, dia adalah sosok yang menjadi panutan bagi saya dan teman baik yang luar biasa. Saya belajar untuk menjadi seperti dia, penuh semangat dan kerja keras, tapi tidak penah mengeluh. Ia meninggalkan saya dan keluarga secara tiba-tiba dan meninggalkan luka mendalam yang tidak tahu kapan akan sembuh. saya menerima kabar kepulangannya ketika saya sudah masuk ke perguruan tinggi. Saya sangat kehilangan saat itu hingga saat ini. Ia seperti jembatan penghubung bagi keluarga, sifat supel dan cerianya menyatukan satu persatu keluarga ibu saya. Tapi, Tuhan berkehendak lain ketika Ia harus kami relakan pergi mendahului kami semua.

Pengalaman-pengalaman ini, mengajarkan saya banyak hal dalam hidup. Saya tahu, bahwa saya bukan siap-siapa ketika maut memisahkan kontak saya dengan dunia ini. Saya bukan siapa-siapa ketika Tuhan memanggil saya untuk pulang. Saya bersyukur, karena Gereja memberi saya kesempatan untuk mendoakan dan mengingat mereka dalam Ekaristi Kudus. Mereka yang terlupakan, namun akan tetap dan selalu dikenang.

Iklan

5 thoughts on “Mereka yang terlupakan”

  1. Ia Lan,..kalo di pikir-pikir, ya aku ini warisan yang mereka tinggalkan untuk dunia. So, kayak di film-film kartun itu…” aku harus menjaga warisan ini sebaik-baiknya…”. hahahahaha

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s