Jiwanya yang ‘kosong’

03dbd5bfd48db71d94675953f05b6ceb

Disuatu senja, saya dan sahabat saya sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah yang diberikan kepada kami. Sahabat saya ini duduk gelisah dan membuat saya tidak nyaman melihatnya.

Ada apa ? ” tanya saya penasaran.

Beberapa hari ini, saya menyelesaikan hidup saya dengan ‘berlibur’ dan berinteraksi dengan orang lain, tapi saya belum juga merasa ‘puas’ dan merasa ‘berarti’. Ada apa dengan saya?” Kata sahabat saya.

Saya tahu, sesuatu terjadi padanya, hidupnya memang sedang tidak beres.

“Jangan terlalu kasar dengan dirimu sendiri, ya…” Kata saya meberi saran sambil tidak berhenti mengetik dan menelaah dokumen didepan saya.

Tidak ada satupun dokumen didepan saya yang selesai saya kerjakan!” Katanya kemudian.

Saya tidak tahu mengapa. Tempat yang saya anggap sebagai rumah, sudah bukanlah tempat yang baik bagi saya. Saya selalu merasa kepanasan, setiap kali saya pulang dan saya tidak ‘betah’ hidup berlama-lama. Saya sungguh tidak merasa nyaman!” Kata sahabat saya.

Belum lagi, tuntutan banyak orang disekitar saya akan diri saya! Mereka ingin saya melakukan A, B dan C. Tapi apakah mereka pernah bertanya, apa yang saya inginkan?” Lanjutnya.

Saya melepaskan konsentrasi saya dari depan laptop dan memutuskan untuk mendengarkan dia.

Sedih saya melihat sosoknya yang saat ini. Saya tahu, Ia adalah orang yang kuat. Tapi memang, akhir-akir ini ia ditimpa banyak masalah dan ia seakan menjadi sosok yang sangat menyedihkan. Dalam hati saya berdoa, semoga dirinya dapat menghhadapi hal ini.

Jiwa saya, se’akan’ kosong entah kemana dan saya tidak tahu, apa yang harus saya lakukan! ” Kata sahabat saya. Ini adalah kesimpulan dari ap ayang ia ceritakan hari ini. Ini sungguh menyentuh hati saya dan ini sugguh membuat hati saya terluka ketika melihat dan mendengarnya.

Apa yang bisa saya lakukan? ” Kata saya memberanikan diri menawarkan diri. Saya tahu, tolol sekali mengatakan hal demikian. Karena sahabat saya memang memerlukan pertolongan. Mendengarkan ia bercerita adalah apa yang mungkin sangat ia inginkan.

Seperti apa yang saya pikirkan, Ia diam disana, tidak menjawab. Tapi, dari sudut matanya yang berair. Saya tahu, Ia sangat membutuhkan pertolongan dan kehadiran saya adalah sesuatu yang ia butuhkan.

Stress, memang adalah hal yang tidak dapat kita hindari dari hidup ini. Banyak sekali masalah yang terjadi didunia ini hanya karena banyaknya stressor yang ada disekitar dan ditambah, ketidak mampuan dari ‘coping’ dalam diri kita untuk bertahan dan melawan. Sedih memang! Tapi, support system adalah hal yng sangat penting disini. Kita memerlukannya. Seperti sahabat saya, Ia mungkin diam dan tidak menjawab, tapi yang Ia butuhkan adalah kehadiran saya yang merupakan sahabatnya. Kehadiran saya yang tidak menuntut tapi menemaninya menghadapi masalahnya. Persis seperti Bunda Maria ketika Ia menemani Yesus dalam penderitaanNya. Ia tidak menuntut, tidak bertanya mengapa. Tapi, Ia berhati besar untuk mengerti. Dan Ia tidak pernah berhenti menemani Yesus untuk melalui penderitaanNya.

Salam kebaikan.

Memunculkan kembali Diri

86dce1d8ba9b50866690ba562dff9929

Ketika saya sedang asik mengerjakan tugas di sebuah pondok minum kopi, saya secara tidak sengaja mendengar sebuah pembicaraan dari belakang meja. Nampaknya, ada sepasang muda-muda (Karena keduanya adalah Pria) yang sedang terlibat dalam sebuah pembicaraan.

Setelah beberapa bulan tidak aktif lagi di media sosial terutama di Facebook, Saya merasa lebih baik. Karena saya tidak ter-obsesi untuk mencari ‘ketenaran’ dari status-status ngak jelas saya. Tapi, ketika saya kembali aktif dan mulai menulis sedikit demi sedikit kembali, saya seakan kosong, karena tidak ada satupun yang mau memberikan ‘like’ pada tulisan saya. Padahal saya sudah membuat status se-lebay-lebay mungkin!” Kata si-Pria yang memiliki suara sedikit ‘bass’. Ya, sebut saja Pria A.

Lalu, si pria B, menjawab ” Kok bisa?”

Mungkin karena saya sudah lama hilang dari peredaran dan memang saya jarang me-like status ornag-orang yang selama ini saya kunjungi. Mungkin mereka sudah lelah dan saya juga mungkin sudah lelah!” Kata si Pria A.

Saya tidak akan melampirkan percakapan mereka yang panjang lebar, tapi saya akan memberikan sedikit kesimpulan setelah lebih dari 30 menit mencermati pembicaraan mereka.

Sosial media seperti Facebook, memang menjadi ajang yang sangat baik untuk bertukar informasi atau melakukukan sharing =like= satu dengan yang lainnya. Tapi, kurang tepat untuk dijadikan tempat menggantungkan harga diri disana. Namanya saja dunia maya, artinya memang ‘maya’ atau semu. Sedih bukan?.

Pelajaran hari ini, jangan menggantungkan harga diri di sosial media manapun!

Jiwa yang lelah

eb8b2e1d43965650fb262c0431b4cbfd

Saya masih belum menemukan jawaban yang pas untuk pertanyaan seperti, “Mengapa rasanya seluruh tenaga terkuras habis setelah melakukan terapi kepada orang yang membutuhkan?” Atau lebih sederhananya, “Mengapa rasanya lelah sekali saat ini?”.

Beberapa hari ini sahabat saya tidak berhenti untuk mengeluh kepada saya karena saya disebut merusak ‘mood’ nya dengan menampilkan wajah penuh dengan stress dan tulisan tidak kasat mata di dahi saya, “Saya stress, jangan diganggu!”.

Ya, saya memang sedang memiliki banyak acara di bulan ini dan juga bulan selanjutnya. Jadwal praktik saya semakin meningkat jam-nya, semakin hari semakin penuh saja. Sedih rasanya, mengetahui bahwa saya harus berhadapan dengan masalah seperti ini dan saya masih harus ditimpa banyak gangguan dari tempat tinggal saya sendiri. Belum lagi, berhadapan dengan mereka yang tidak pernah mau ‘mengerti’ dengan keadaan saya saat ini. Dunia rasanya bukan lagi tempat yang nyaman untuk ditinggali.

Tanpa sepengetahuan saya, saya mengeluarkan banyak energi dari dalam tubuh dan juga jiwa saya. Keseimbangan jiwa saya terganggu oleh energi semacam ini, menakutkan bagi saya secara personal. Apa yang dapat saya lakukan ?

Sahabat saya berteriak dari ujung meja, “Seimbangkan !”. Benar juga pikir saya. Kalau banyak yang keluar, maka harus banyak yang masuk untuk membuatnya seimbang didalam sana. Saya nampaknya perlu sedikit meditasi dan menjauhkan diri dari banyaknya masalah yang tidak jelas ini. Lalu, tidak lupa untuk kembali. Saya akan melakukannya!

Salam.

Berita

news

Media dan portal berita memang benar-benar mengaduk perasaan Saya pada hitungan 48 jam ini. Berita tentang A, B, C dan D. Saya kembali teringat dengan pemikiran yang dibagikan oleh Guru SMA saya dulu, ” Media informasi saat ini banyak memberitakan berita ‘buruk’ yang menyakitkan hati dan melupakan berita ‘baik’ yang menggembirakan “. Lalu, lanjutnya ” Dunia ini nampaknya penuh dengan masalah dan krisis, itulah gambaran kita!” Sehingga sebagai hasilnya, “Kita menjadi terus menerus diliputi pemikiran yang negatif dan tidak aman”.

Pemikiran guru SMA saya ini dapat saya rasakan dampaknya hampir setiap kali saya membaca berita. Propaganda, sindir menyindir, berita palsu…ah, dunia ini nampak tidak baik.

Tapi, dari sini saya belajar bahwa untuk menciptakan dunia yang lebih baik, memang perlu hal-hal yang tidak baik, seperti hal-hal yang ada didalam berita-berita ini. Kadang, tanah yang subur dan gembur berasal dari tanah yang baru saja dilanda kebakaran dipermukaannya.

Salam.

Jatuh pada ‘cinta’

57b2a92acb28e9c90aaa0511153c703e

Mata sahabatku memandang nanar keluar jendela Cafe’. Saya yang duduk didepannya tidak diajaknya tenggelam dalam pikirannya yang nampak kalut. Saya gerakkan tangan saya dengan tidak sabar, menunggu Ia memberi saya jawaban, kata atau apalah sehingga saya tidak mati duduk karena penasaran. Saya sengaja meminum es kopi didepan saya sambil menggeluarkan suara, harapannya adalah Ia mau mendengarkan, Ia mau membagi pikirannya saat itu.

Jatuh cinta itu tidak mudah ya…” Akhirnya, kalimat yang saya nantikan keluar dari mulut sahabat saya ini. Tapi, sayangnya ini bukanlah kalimat yang saya harapkan keluar dari mulutnya. Sudah sangat lama semenjak kami membicarakan topik tentang ‘cinta’. Memang, seakan tidak sesuai dengan usia kami dan juga tidak ‘lazim’ jika dibandingkan dengan topik-topik pembicaraan kami selama ini.

Semalam, saya menjalin kembali kontak dengan cinta yang sudah lama saya lupakan” Sahabat saya mulai bercerita. Saya membetulkan duduk saya dan mempersilahkan Ia untuk bercerita.

Entah mengapa, dada ini nampak sesak. Entah mengapa, nafas ini menjadi tidak teratur. Saya melihat diri saya yang sudah lama saya lupakan ketika saya berbicara dengannya. Saya tahu, saya terlihat tolol, bahkan didepan cermin. Saya juga tahu, dari dlam lubuk hati saya yang gelap ini, saya masih menyimpan harapan untuk dia dan saya“. Sahabat saya masih memandang keluar ketika Ia berbicara pada saya. Saya seketika tahu, tidak mudah baginya untuk menceritakan apa yang Ia alami, meskipun itu terhadap saya sahabatnya.

Saya selalu menjadi diri saya sendiri ketika bersamanya” Tuturnya lagi.

Lalu, saya memberanikan diri untuk mengeluarkan suara.

Lalu, sekarang masalahnya apa?” tanya saya.

Masalah ?” Ia nampak diam dan menunduk lalu sahabat saya yang jauh lebih cantik dari saya ini memandang saya sambil berbicara.

Masalahnya adalah hingga saat ini, Ia masih memiliki kekuatan untuk mengobrak-abrik perasaan saya” jawabnya dengan mata yang agak sedih.

Saya tidak bisa berkata apa-apa. Kalimat sahabat saya ini menjawab semua tingkah lakunya hari ini. Diam dan seakan mengabaikan saya sebagai sahabatnya.

Hatinya sedang teralihkan dan Ia sedang kalut.

Ingin sekali saya menawarkan bantuan. Tapi, beberapa waktu yang lalu, kami sepakat bahwa masalah pribadi seperti ini tidak dibahas panjang lebar. Karena tidak akan pernah ada perubahan. Ini adalah area yang tidak bisa kami intervensi seenaknya saja. Sahabat saya waktu itu mengatakan, “Ini masalah hati!“.

Akhirnya, saya hanya memutuskan untuk diam dan menemaninya duduk diam disana. Kami seakan orang asing yang baru saja bertemu. Saya harap ini bisa membantunya. Dalam hati, saya sungguh berharap demikian.

Melepaskan kepemilikan dunia

28d76270465abfe46c6e4ebbfe131ca0

Beberapa hari ini kesadaran saya akan kepemilikan kebendaan meningkat. Entah apa penyebabnya, mungkin saja kadar ‘sensitifitas’ saya naik menjadi berapa persen begitu karena perubahan cuaca mendadak. Ya, karena tumben tiba-tiba saja Manila hujan lebat hari ini.

Tinggal dan hidup bersama dengan orang lain dalam satu atap, membuat saya harus melepaskan banyak benda atau kepemilikan atas nama saya. Sebut saja, tempat tidur, tempat meletakkan pakaian, tempat makan dan lain sebagainya.

Tapi, ini baik juga. Karena saya dapat belajar hidup ‘sederhana’ dan mati raga sekalian. Saya mencoba berpikir positif dan mengatakan bahwa ini adalah ujian. Ini adalah bagian dari perjuangan untuk menjadi baik, menjadi pribadi yang kuat dan tahan banting. Menjadi pribadi yang mampu beradaptasi dan lain sebagainya.

Ah, sahabat saya berkata, “Telalu jauh anganmu itu, kawan!”. Lanjutnya, “Coba saja kau hadapi teman-teman kamarnya yang mengobrak-abrik tempat tidurmu selepas pulang nanti!” .

Dan sayapun diam seribu bahasa.

Ternyata saya masih belum bisa melepaskan keduniawian saya.

Melawan ketidaktahuan

aa2cd9b2ab97110f43925661f8e9cc40

Hampir semua Klien yang mendapat perawatan adalah mereka yang datang dengan masalah “Kurang pengetahuan” atau “Defisiensi pengetahuan”. Entah kurang informasi terkait dengan masalahnya atau masalah perawatannya. Jika digali, banyak sekali masalah yang dibiarkan terjadi karena kurang mengerti dan kurang tahu.

Berkaca dari pengalaman ini, maka sudah menjadi kewajiban bagi mereka yang mengerti untuk melawan ketidakthuan dan memerdekakan pengetahuan.

Tidak ada cara lain selain, “Belajar” dan tidak ada cara lain selain memperdalam ‘ilmu’. Itulah alasannya mengapa ada wajib belajar 12 tahun dilanjutkan dengan memilih jenjang keilmuan selanjutnya.

Merubah seseorang yang tidak tahu menjadi tahu adalah perjuangan. Itulah mengapa profesi guru disebut sebagai pahlawan.

Tapi, perjuangan ini tidak berhenti hanya sampai disitu saja.

Karena selain menjadi tahu, orang juga perlu berbuat sesuatu dengan keadaannya. Melatih pribadi untuk bisa menyadari masalahnya, memecahkan masalahnya dan mengadaptasi proses pemecahan masalah kedalam hidupnya adalah uraian-uraian lanjutan.

Hingga, pada akhirnya pribadi ini dapat menginspirasi orang lain dengan ‘menciptakan’ sesuatu yang dapat membantu orang lainnya.

Proses ini terjadi terus menerus.

Inilah yang disebut ‘perjuangan’ dan perjuangan ini dimulai dari melawan ketidaktahuan.

Salam.